Gawat! 40% Milenial Rela Terjebak Utang Kartu Kredit agar Dianggap Gaul

|Posted by | Berita Keuangan, Kartu Kredit, Kebiasaan Keuangan, Promo Kartu Kredit, Tips Hemat, Transaksi Nontunai
Tags: ,

Masa depan finansial generasi milenial bisa terancam bila pengelolaan keuangan pribadi masih belum baik. Godaan gaya hidup dan tuntutan sosial bahkan banyak mendorong milenial berani berutang, terutama memakai kartu kredit.

Kamu punya kartu kredit, Moneysavers? Dalam sistem perekonomian modern, kehadiran kartu kredit konon diakui sebagai salah satu penemuan besar yang mengubah secara drastis kebiasaan konsumsi masyarakat dunia. Betapa tidak? Kartu kredit milenial memungkinkan kamu membeli sebuah barang walaupun sebenarnya kamu tidak memiliki uang sendiri saat itu. Ya, benar, kartu kredit adalah salah satu alat transaksi nontunai yang berbasis dana pinjaman dari bank.

Seorang nasabah kartu kredit bisa membelanjakan dana yang tertera di kartu kredit untuk berbagai keperluan dan membayarnya kelak saat tagihan dicetak atau sebelum tanggal jatuh tempo tagihan datang. Penerbit kartu kredit rata-rata menetapkan jarak sekitar 15 hari antara tanggal cetak tagihan dan tanggal jatuh tempo kartu kredit. 

Jadi, misalnya, tanggal cetak tagihan adalah setiap tanggal 15 tiap bulan. Maka tanggal jatuh tempo pembayaran tagihan adalah tanggal 30 setiap bulan. Bila pengguna kartu kredit membayar tagihan kartu kredit sebelum tanggal 30 secara lunas (full payment), maka dia tidak dikenakan bunga sama sekali. Sebaliknya, bila hanya membayar minimum payment atau 10% dari nilai total tagihan, maka sisa tagihan akan dikenakan bunga saat cetak tagihan bulan berikutnya.

Dengan skema demikian, kartu kredit milenial sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai alat transaksi nontunai yang bebas bunga selama pemakaiannya sesuai kemampuan bayar dan si nasabah melakukan full payment. Namun, pada kenyataannya banyak kalangan yang masih keliru dalam memposisikan kartu kredit. Kekeliruan yang sering terjadi antara lain, memperlakukan kartu kredit sebagai sumber pendapatan padahal sejatinya kartu kredit berbasis pinjaman dari bank.

Kekeliruan memandang kartu kredit akhirnya banyak mendorong orang memakai kartu kredit tanpa perhitungan yang sadar. Akhirnya, saat lembar tagihan datang, penghasilan yang ada tidak memadai untuk membayar tagihan. Menunggak pembayaran lalu terkena bunga dan akhirnya terkena masalah keuangan serius gara-gara kartu kredit.

Padahal, bila kartu kredit dimanfaatkan sesuai fungsi utamanya yaitu sebagai alat transaksi nontunai yang memudahkan aktivitas transaksi, si pengguna bisa menikmati banyak keuntungan. Mulai dari rewards points, cashback, discount hingga cicilan 0% dan cash advance dengan bunga rendah.

Bagaimana anak millennials memperlakukan kartu kredit?

Baru-baru ini Credit Karma, perusahaan personal finance multinasional yang berpusat di Amerika Serikat, merilis temuan yang mengejutkan. Anak milenial di Amerika Serikat banyak yang terjerat utang kartu kredit hanya karena enggan dianggap tidak gaul. Wah!

Credit Karma menyurvei sekitar 1.045 responden dan menemukan beberapa data menarik. Hampir 40% millennials di negeri paman sam tersebut rela berutang memakai kartu kredit agar tetap bisa diterima oleh lingkungan pertemanan mereka. Millennials berani membeli sebuah barang yang sebenarnya tidak bisa mereka beli memakai uang sendiri demi memenuhi tuntutan pertemanan. Kartu kredit pun akhirnya menjadi jalan keluar untuk membeli barang tersebut walau mereka sebenarnya tahu akan kesulitan membayar tagihan kelak.

Dari hasil survei itu terungkap bila kalangan milenial di Amerika Serikat rela berutang di luar kemampuan pembayaran mereka memakai kartu kredit milenial, karena mereka khawatir tidak akan dilibatkan lagi oleh teman-teman mereka di kegiatan berikutnya. Setidaknya ada 36% mengaku beralasan seperti ini. Lalu, sebanyak 27% nekat berutang karena enggan dianggap sebagai orang luar oleh kelompok pertemanan mereka. Selanjutnya, 26% khawatir kehilangan teman-teman dan sisanya enggan dinilai oleh kawan-kawan mereka.

Kebanyakan milenial di negeri Donald Trump terpaksa berutang memakai kartu kredit sekadar untuk membeli baju (41%), lalu berbelanja gadget atau barang elektronik (26%), perhiasan (18%) dan juga membeli mobil (16%) walaupun mereka sadar bahwa mereka sebenarnya tidak mampu membelinya.

Nah, bila di Amerika temuannya seperti itu, apakah hal yang sama juga terjadi pada generasi milenial di Indonesia? Sejauh ini belum ada riset yang secara khusus mendalami perilaku milenial dengan kartu kredit dalam konteks kehidupan sosial mereka. 

Namun, pernah ada survei yang digelar oleh Brilio dan Jakpat Mobile Survey yang dirilis awal tahun 2018 silam tentang milenial dengan kartu kredit terbaik mereka. Mengutip hasil survei tersebut, terungkap bahwa milenial di Indonesia ternyata cukup bertanggung jawab memanfaatkan kartu kredit. Sebanyak 84% responden yang disurvei mengaku memilih membayar tagihan kartu kredit sesuai tagihan dan 72% mengaku selalu membayar tagihan sebelum tanggal jatuh tempo. 

Temuan ini cukup melegakan. Ini menjadi indikasi pemakaian kartu kredit di kalangan anak muda di Indonesia cukup sehat. Berdasarkan hasil survei tersebut, kebanyakan generasi milenial juga memutuskan memiliki kartu kredit untuk tujuan praktis: sebanyak 44% memiliki kartu kredit agar bisa mendapatkan diskon, cashback dan cicilan 0%.

Lalu, sebanyak 38% memiliki kartu kredit karena membutuhkannya sebagai dana cadangan saat keadaan darurat. Ada 16% yang memakai kartu kredit karena alasan kepraktisan sehingga tidak harus memegang uang tunai. Sisanya memakai kartu kredit untuk alasan status sosial.

Di Indonesia, walau sudah hadir cukup lama, kartu kredit sejauh ini nyatanya memang belum terlalu akrab dengan masyarakat . Indikasinya adalah dari rasio jumlah kartu kredit yang beredar dengan total populasi Indonesia. 

Jumlah kartu kredit yang beredar di Indonesia sampai akhir Agustus 2018 adalah sebesar 17,28 juta unit kartu kredit.

Angka itu relatif stagnan sejak November 2017 di mana ketika itu jumlah kartu kredit beredar sudah mencapai 17 juta unit kartu kredit. Bandingkan dengan total populasi di Indonesia yang sudah mencapai seperempat miliar jiwa. 

Walau jumlah kartu kredit terbilang masih kecil bila dibandingkan jumlah penduduk, kartu kredit nyatanya cukup banyak menjadi alat transaksi andalan. Menurut Bank Indonesia, sepanjang tahun ini hingga akhir Agustus 2018, total nilai transaksi pemakaian kartu kredit mencapai Rp178,72 triliun. Terdiri atas transaksi belanja yang nilainya mencapai Rp173,39 triliun. Adapun transaksi tarik tunai kartu kredit di Indonesia year-to-date nilainya mencapai Rp5,32 triliun sampai akhir Agustus 2018. 

Angka itu kemungkinan terus meningkat bila melihat histori tahun-tahun sebelumnya. Sepanjang tahun 2017, total nilai transaksi kartu kredit di Indonesia menembus Rp281,02 triliun.

Kebiasaan buruk terkait kartu kredit yang perlu dihindari milenials 

Memiliki kartu kredit milenial memang bisa menjadi masalah bila penggunaannya tidak tepat atau kurang bijak. Namun, sebaliknya, apabila kamu memahami cara kerja kartu kredit dan mampu berdisiplin dalam memanfaatkannya sebagai alat transaksi nontunai, kamu sebenarnya bisa mendapatkan banyak keuntungan.

Nah, khusus bagi kamu pengguna kartu kredit pemula, pastikan kamu membiasakan diri memakai kartu kredit secara tepat. Hindari kebiasaan-kebiasaan buruk yang umum dilakukan oleh pemilik kartu kredit. Dengan begitu, manfaat kartu kredit bisa kamu dapatkan secara optimal sekaligus terhindar dari masalah-masalah finansial akibat kesalahan pemakaian kartu kredit.

Inilah 4 kebiasaan buruk yang umum dilakukan oleh pemegang kartu kredit yang perlu kamu hindari:

1. Memakai kartu kredit tanpa rencana dan perhitungan

Kebanyakan masalah finansial akibat kartu kredit berpangkal pada satu kesalahan umum: memakai kartu kredit tanpa rencana dan hitungan jelas sekadar untuk keperluan konsumtif. Asal gesek kartu kredit demi bisa membeli ini itu yang ditawarkan oleh para merchant akan sangat berbahaya ketika dilakukan tanpa memikirkan satu hal penting: yakin nanti ada uang untuk membayar semua yang kamu beli tersebut?

Memakai kartu kredit apalagi memiliki kredit tanpa agunan tanpa menghitung kemampuan pembayaran kelak adalah kesalahan fatal. Bila kamu menggesek kartu kredit untuk bertransaksi berbagai rupa tapi tidak bisa memastikan bisa membayar tagihannya kelak, itu sama saja mengundang masalah keuangan serius. Mengapa? Ini tak lain karena bunga kartu kredit mahal. Bila tagihan datang dan kamu tidak mampu membayar 100%, otomatis kamu akan terkena bunga yang mahal mencapai 27% setahun!

Maka itu, setiap kali kamu menggesek kartu kredit untuk bertransaksi, pastikan kamu memiliki uang untuk dibayarkan ketika tagihan datang kelak.

2. Terlalu sering membayar minimum payment

Kartu kredit milenial memang memungkinkan penggunanya membayar tagihan dalam nilai minimal. Saat ini, besar minimum payment yang diperbolehkan oleh bank adalah sebesar 10%. Ini berarti, saat kamu memiliki tagihan Rp5 juta, kamu diperbolehkan hanya membayar senilai Rp500 ribu juta saja.

Tapi, kemudahan itu tidak gratis. Sisa tagihan kamu sebesar Rp4,5 juta akan dikenakan bunga tinggi yang harus kamu bayarkan ketika tagihan bulan berikutnya datang. Ini akan menjadi pintu masuk dari petaka finansial yang serius. Mengapa demikian? Bunga kartu kredit milenial sangat mahal,  mencapai 2,25% per bulan atau 27% per tahun. Bila pada tagihan berikutnya kamu kembali membayar minimum payment, bunganya akan terus menggulung dan bisa-bisa kamu semakin tidak sanggup membayarnya.

Maka itu, biasakan memakai kartu kredit dengan disiplin sehingga setiap kali tagihan datang, kamu bisa membayarnya 100% supaya tidak perlu membayar bunga.

3. Menganggap kartu kredit sebagai dana darurat

Kartu kredit memiliki fitur tarik tunai atau cash advance yang memungkinkan pemiliknya menarik uang dari ATM sebagaimana cara kerja kartu debit atau kartu ATM. Bedanya, tarik tunai memakai kartu kredit biayanya tidak murah. Setiap menarik dana memakai kartu kredit di ATM, penerbit kartu kredit akan mengenakan biaya, biasanya dalam persentase sekitar 6% dari  nominal penarikan atau sebesar minimal Rp 50.000.

Dengan fitur cash advance ini, kartu kredit memang bisa menjadi “penolong” kebutuhan tunai dalam kondisi darurat. Tapi, selalulah ingat bila dana yang kamu tarik memakai kartu kredit adalah dana pinjaman uang online dari bank yang bunganya mahal. Jadi, bijaklah dalam menggunakannya untuk tarik tunai dan pastikan kamu memiliki dana untuk membayar tagihannya kelak.

4. Menjadikan kartu kredit sebagai alasan konsumtif

Godaan kartu kredit memang besar. Banyak orang yang akhirnya terjebak untuk berlaku lebih boros alias konsumtif karena tergoda iming-iming kartu kredit. Misalnya, kartu kredit rajin memberikan diskon ini itu untuk transaksi tertentu. Banyak orang tak sadar memakai kartu kredit hanya sekadar untuk memburu diskon tersebut, padahal sebenarnya tidak terlalu butuh dengan barang atau jasa tersebut.

Untuk menghindarinya mudah saja, kok. Biasakan setiap bulan memiliki batasan budget berapa yang kamu perbolehkan memakai kartu kredit dan untuk transaksi apa saja. Misalnya, batasi saja kartu kredit hanya untuk acara makan bersama keluarga setiap bulan, atau memakai kartu kredit untuk membayar tagihan rutin. Dengan batasan, kamu bisa terbantu untuk meminimalisasi pemakaian kartu kredit untuk hal-hal yang tak terencana.

Nah, itulah hal penting yang perlu dipahami perihal pemakaian kartu kredit. Bagaikan pedang bermata dua, tinggal kita bisa menentukan: apakah kartu kredit menjadi alat transaksi yang membantu atau justru menghancurkan keuangan. Kamu pilih yang mana?

 

 

Ruisa Khoiriyah

Tentang Penulis: Ruisa Khoiriyah

a writer.