Pikir Baik-Baik agar Putusan Bercerai Tidak Membuat Kamu Jatuh Miskin

|Posted by | Pernikahan
Tags: ,

ahok vero cerai

Kabar tuntutan perceraian Ahok pada sang istri Veronica Tan, menggemparkan publik. Perceraian bukan hanya melahirkan luka batin, tapi juga bisa ikut memporakporandakan kondisi finansial. Pikirkan lagi baik-baik sebelum memilih pisah.

Awal pekan ini, masyarakat Indonesia digemparkan oleh kabar tentang seorang politisi terkenal Basuki Tjahaja Purnama atau biasa disebut Ahok. Ahok yang kini masih mendekam di penjara akibat tersandung perkara hukum, dikabarkan telah melayangkan gugatan cerai pada sang istri, Veronica Tan.

Kabar Ahok dan Vero cerai yang semula terdengar seperti rumor ini ternyata bukan pepesan kosong. Mengutip Kompas.com,pengacara Ahok akhirnya membenarkan kabar gugatan cerai pasangan figur publik tersebut.

Berita tentang penyebab perceraian di Indonesia semakin hari memang semakin jamak terdengar. Mengutip pemberitaan Merdeka.com, berdasarkan data yang pernah dirilis oleh Kementerian Agama, selama rentang 2009-2016, angka perceraian telah meningkat 16%-20%.

Rekor angka perceraian tertinggi terjadi pada tahun 2012 di mana ada 372.557 perceraian. Bisa dibilang, terjadi 40 perceraian setiap jam di Indonesia ketika itu. Selain itu, cerai gugat juga semakin mendominasi dibandingkan cerai talak. Ini berarti, semakin banyak kaum perempuan yang berinisiatif menggugat cerai.

Keputusan menggugat cerai, seperti yang ditempuh oleh Ahok, bisa dipastikan merupakan keputusan yang sangat berat dan personal. Perceraian, apapun pangkal sebabnya, bukan hanya melahirkan luka batin permanen bagi pasangan suami istri yang pernah saling mencintai. Anak-anak jelas menjadi korban utama yang terpapar langsung dampak perceraian orangtuanya.

Nah, selain luka batin, perceraian juga melahirkan banyak konsekuensi finansial yang memengaruhi kondisi keuangan pribadi seseorang. Berikut ini di antaranya:

1. Harta gono gini

Ini adalah konsekuensi finansial yang utama. Sepanjang pasangan suami istri tidak memiliki perjanjian pranikah pemisahan harta, pernikahan pada dasarnya juga menyatukan harta benda mereka menjadi harta bersama. Ini membawa konsekuensi, ketika kelak terjadi perceraian, harta itu menjadi harta bersama yang harus dibagi antara suami dan istri.

Baca Juga : Trik Kelola Uang Belanja Rumah Tangga Agar Pernikahan Selalu Harmonis

Menurut UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, yang bukan termasuk harta gana-gini ada dua. Pertama, harta bawaan yang sudah dimiliki suami atau istri sebelum menikah. Kedua, harta perolehan yaitu harta milik suami atau istri setelah menikah dari hibah, wasiat, atau warisan. Kepemilikan dua jenis harta tersebut tetap menjadi milik individu suami atau istri ketika terjadi perceraian. Lain dari itu, maka kategorinya adalah harta gono-gini yang harus dibagi dua ketika terjadi perceraian.

2. Permasalahan utang

Banyak pasangan suami istri yang ketika masih di dalam satu ikatan pernikahan, mengambil utang atau kredit bersama. Misalnya, kredit pemilikan rumah (KPR), kredit properti lain, kredit mobil, dan lain sebagainya.

Sebagaimana harta, apabila pasangan suami istri tidak memiliki perjanjian pranikah pemisahan harta, tanggungan utang pun menjadi tanggungan bersama. Jadi, kendati bercerai, utang yang diambil tetap akan menjadi beban kedua belah pihak.

3. Tunjangan anak bagi pasangan yang memiliki anak 

Masalah finansial penyebab perceraian selanjutnya adalah perihal tunjangan anak. Orang bijak bilang, ada mantan istri atau mantan suami, tapi tidak ada yang namanya mantan anak. Jadi, kendati seseorang telah bercerai, tanggungjawab sebagai orangtua tetap berjalan.

Suami sebagai kepala rumah tangga biasanya diberi tanggungjawab lebih besar masalah ini. Namun, dalam praktiknya, sang istri selaku ibu juga dibebani hal sama.

4. Biaya pengurusan perceraian

Perceraian itu tidak murah. Bila kamu saat ini tengah menimbang untuk bercerai, kamu harus memikirkan pula persiapan biaya mengurus perkara. Daftar biayanya antara lain, honor pengacara, biaya pengadilann, biaya akuntan dan notaris bila memang dibutuhkan ataupun divorce planner.

5. Bekal finansial pasca cerai

Konsekuensi finansial perceraian adalah bekal keuangan kelak setelah palu hakim menyetujui perceraian. Kondisi keuangan akan berubah drastis, dari yang semula joint income atau berpenghasilan bersama dan kini menjadi lajang lagi.

Baca Juga : Begini Cara Mengurus Akta Kelahiran, Mudah dan Gratis

Situasi akan lebih pelik bagi wanita yang selama menikah dan berstatus istri tidak memiliki pekerjaan atau penghasilan sendiri. Jadi, kehidupan finansial setelah cerai ini perlu dipikirkan dengan baik.

Bila tetap memutuskan cerai, lakukan persiapan finansial ini

ahok vero cerai

Tidak seorangpun yang berniat cerai ketika mengucap ikrar akad nikah di depan penghulu atau saat mengucap janji pernikahan di hadapan pendeta. Namun, dinamika kehidupan pernikahan memang acapkali tidak sederhana sehingga seseorang terpaksa mengambil keputusan besar nan pahit: bercerai.

Namun, supaya musibah perceraian tidak sampai melahirkan masalah baru yang runyam, pastikan kamu sudah menghitung segala risikonya. Khusus perihal keuangan pribadi, kasus penyebab perceraian tetap perlu penanganan khusus supaya keputusan perceraian tidak membuat seseorang juga rugi secara finansial.

Berikut ini beberapa hal yang perlu kamu timbang apabila memang terpaksa memutuskan bercerai dari pasangan:

Daftarlah aset-aset

Sebelum memutuskan cerai, ada baiknya kamu mendaftar terlebih dulu aset-aset mana saja yang tergolong aset bawaan dan mana yang yang termasuk harta gono gini.

Seperti disinggung di atas, yang bukan termasuk harta gono gini ada dua, yaitu harta bawaan yang sudah dimiliki suami atau istri sebelum menikah. Lalu, harta perolehan yaitu harta milik suami atau istri setelah menikah dari hibah, wasiat, atau warisan. Kepemilikan dua jenis harta tersebut tetap menjadi milik individu suami atau istri ketika terjadi perceraian.

Lain dari itu, maka termasuk harta gana-gini dan harus dibagi dua ketika terjadi perceraian. Buatlah daftar aset mana saja yang memang aset bawaan sebelum menikah dan mana harta ketika menikah.

Dokumentasi aset termasuk kuitansi pembelian atau akta kepemilikan. Aset misalnya, dana di rekening bank, aset investasi reksadana, obligasi, saham, deposito, juga asuransi jiwa, dan lain sebagainya.

Jangan lupakan utang

Kamu dan pasangan perlu menyepakati pengurusan utang bersama. Pilihannya, apakah akan dilunasi lalu kelak dijual dan hasilnya dibagi dua. Atau, apakah akan tetap dilanjutkan saja pembayaran cicilan sesuai porsi masing-masing.

Sebagai contoh, kredit rumah atas nama suami namun dalam kesepakatan gono gni, rumah jatuh ke istri. Untuk itu, suami perlu mengurus ke notaris bank dengan membawa surat cerai untuk mempertegas tanggungjawab cicilan selanjutnya diteruskan oleh mantan istri. Dengan begitu, beban cicilan yang tersisa tidak lagi menjadi bebannya.

Tunjangan anak

Perceraian dan harta gono gini tidak menggugurkan kewajiban ayah membiayai kebutuhan anak, selama dia mampu. Walau sudah diatur oleh undang-undang, ada baiknya sang istri membuat perjanjian lagi untuk mempertegas kewajiban suami terkait tunjangan anak.

Kalau kesepakatannya adalah tunjangan anak ditanggung berdua, pembagian kewajiban harus detail agar tidak menjadi masalah di kemudian hari. Perjelas perjanjian, bagian kewajiban mantan istri dan mantan suami, daftar kebutuhan anak yang harus ditanggung, lalu pengelolaan dana tunjangan.

Baca Juga : 5 Perihal Keuangan yang Perlu Dibicarakan Sebelum Menikah

Semisal sudah ada investasi yang berjalan untuk kebutuhan anak, seperti reksadana untuk dana pendidikan, teruskan saja. Tinggal disepakati siapa yang akan melanjutkan kelanjutan investasi.

Finansial pasca cerai

Bila selama ini kamu membiayai hidup dengan penghasilan bersama, maka pasca bercerai, tentu akan ada perubahan drastis. Apalagi bagi wanita yang selama menikah tidak memiliki penghasilan sendiri. Supaya tidak jatuh miskin pasca cerai, lebih baik dari jauh-jauh hari kamu siapkan “sekoci”, misalnya merintis bisnis online shop sebagai pegangan.

Cara lain, kamu perlu menyesuaikan gaya hidup pasca bercerai. Ini supaya kondisi pendapatan yang sudah berubah, tidak menjebak kamu dalam kondisi finansial yang kurang sehat.

Apapun kelak keputusan kamu, pastikan putusan itu adalah yang terbaik dan paling banyak membawa manfaat. Semangat, Moneysavers!

https://www.halomoney.co.id/id

 

Ruisa Khoiriyah

Tentang Penulis: Ruisa Khoiriyah

Certified Financial Planner, Former Finance Journalist, Professional Writer, and Lifelong Learner. Selalu ingin berbagi hal yang berguna, praktis dan bisa memberi nilai lebih bagi para pembaca, terutama seputar pengelolaan keuangan pribadi dan kampanye literasi finansial. Ruisa bisa dihubungi di ruisa@halomoney.co.id.